elvi susanti

Amanah Itu Bernama Aini

Telepon genggam suami saya berdering siang itu. Tepatnya di bulan September 2011. Saat itu kami sedang berlibur di Bangkok. Telepon tersebut datang dari Yayasan Sayap Ibu, Jakarta  yang mengabarkan kami diundang berkunjung ke yayasan itu. Suami saya bilang, kami akan segera ke sana begitu balik ke Jakarta.

Maka janji pun kami tepati. Masih lekat di ingatan saya, Selasa malam tanggal 13 September kami balik ke Jakarta, dan esok sorenya (14 September) – sebelum berangkat ke Bandung – kami mampir ke Yayasan yang berlokasi di Jalan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Lembaran baru pun dimulai, cerita seru bergulir.

Memang benar adanya, Tuhan memberikan amanah-Nya dalam berbagai cara, bahkan terkadang melalui cara yang tidak terduga. Sebuah amanah yang tak ternilai harganya baru saja diberikan kepada kami: seorang putri berusia tiga tahun. Ya, kami baru saja mengadopsi anak dari Yayasan Sayap Ibu – tempat berkumpul banyak malaikat kecil di sana.

Sebelumnya kami pernah ke Yayasan yang telah menjadi anggota Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) tersebut dan berbicara dengan staf di sana soal kemungkinan mengadopsi anak yang sedang diasuh. Seperti diketahui, Yayasan Sayap Ibu adalah salah satu panti yang menampung anak-anak yang tak beruntung. Banyak orang-orang hebat di sana yang berjuang mencarikan orang tua angkat bagi anak-anak yang tidak mengenal siapa orang tua kandungnya.

 Meskipun syarat-syarat dokumennya cukup banyak, tetapi Alhamdulillah berhasil kami lengkapi dalam waktu kurang sebulan, tepatnya 27 hari. Soalnya mata belok gadis kecil itu dan tatapannya yang bening seolah merobek jantung saya dan suami untuk segera membawanya pulang. Kami langsung bersemangat begitu  bertemu Aini, bocah perempuan dengan senyum lebar saat mencium punggung tangan saya dan suami pada pertemuan pertama kami. Ya, Tuhan mengirimkan anak melalui Yayasan Sayap Ibu kepada kami.

Jalan kami direstui Tuhan, karena prosesnya yang cukup singkat: tiga bulan. Meski kadang terasa sudah terlalu lama, karena wajah dan senyuman Aini selalu mewarnai langkah kami sepanjang hari. Tapi saya selalu menghibur diri -- bayangkan kalau saya yang harus hamil, makan waktu sembilan bulan dan saat dilahirkan umurnya baru sehari.

Sebelum kehadiran Aini, kami sebenarnya juga sudah diberikan amanah lainnya.Tika, keponakan yang tinggal bersama kami sejak kecil hingga kelas 3 SMP. Begitu masuk SMA, Tika bergabung dengan orang tua kandungnya di Riau dan Insya Allah akan bergabung dengan kami lagi pas dia akan kuliah. Begitu juga adik lelakinya Farid yang kami asuh selama setahun saat dia kelas 1 SD. Mereka berdua telah menempati ruang di hati kami, dan itu untuk selamanya.

Saatnya sekarang Aini, adik mereka,  untuk dibawa pulang. Aini pulang beberapa hari setelah kami merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-16. Hari Jumat, 9 Desember 2011 rumah kami bertambah semarak dengan Aini yang sudah bisa mengusili ibu dan ayahnya. Itu adalah hadiah terindah untuk kehidupan pernikahan kami.

Terima kasih Tuhan. Semoga kami bisa menjaga amanah ini, membesarkan , dan mendampingi Aini mencapai cita-citanya.

Dan yang pasti sekarang, setiap bangun pagi, ada dua pipi yang saya cium: pipi Aini dan ayahnya.

(download)

Ke Pulau yang Membuat Kita Menerawang: Gili Trawangan

 

 

Setelah mengelilingi kota Lombok dari daratan, kami putuskan untuk menikmati wisata eksotis ke Pulau Gili Trawangan di hari Minggu, 4 Desember 2011. Gili Trawangan adalah bagian dari pulau-pulau kecil yang berada di Utara Lombok bersama yang lainnya seperti:  Gili Meno dan Gili Air. Gili dalam bahasa Sasak artinya pulau. Gili Trawangan yang merupakan lokasi syuting film Arisan 2 letaknya paling jauh dibanding gili yang lain.

 

Beberapa tahun silam sebelum gili-gili Lombok dikenal di mancanegara, pulau-pulau ini hanyalah pulau yang dihuni oleh para nelayan dari Bajau dan Bugis, suku perantau dan nelayan asal Sulawesi Selatan. Hampir 80 % mayoritas penduduknya adalah nelayan Bugis dan Bajau, sisanya adalah suku asal Sasak (Lombok Pribumi).

 

Hari Minggu merupakan hari yang tepat untuk berkunjung ke pulau yang mempunyai terumbu karang dengan ikan hiasnya yang sangat indah. Hari Minggu merupakan hari libur, sehingga lebih banyak turis domestik dan mancanegara yang datang berkunjung. Jadi otomatis bakal banyak boat umum dan carteran yang mengantar wisatawan ke sana. Dan jika beruntung, maka kita bisa  melihat penyu-penyu hijau yang sangat langka, tetapi begitu mudah dilihat di gili-gili Lombok. 

 

Kami berangkat dari hotel pukul 8 pagi seperti yang disarankan pegawai hotel. Taksi mengantar kami ke Dermaga Bangsal dengan argo Rp 70 ribu. Kami sampai di sana pukul 8.45 WIB. Dari pemberhentian taksi kami diantar naik cidomo – singkatan dari cikar, dokar, mobil --- semacam dokar yang diberi ban ke tepi pantai dengan tarif Rp 15 ribu. Padahal kalau jalan kaki cuma 10 menit saja, tapi tidak apa-apa karena kami belum pernah naik cidomo.

 

Beruntung kami bisa langsung mengantongi dua tiket, masing-masing seharga Rp 10 ribu. Kalau mencarter boat dengan minimal dua penumpang, kita dikenakan bayaran Rp 400 ribu. Tapi saya dan suami memutuskan bersama-sama dengan penumpang lain. Dipastikan banyak sayuran, air bersih dalam galon, dan bahan kebutuhan pokok memenuhi perahu mesin yang kami tumpangi.

 

Kami menempuh gelombang yang lumayan tinggi. Perahu mesin yang kami tumpangi dikelilingi lautan yang berwarna biru tua kehitaman. Sekilas saya teringat perjalanan ke Pattaya September lalu. Rasanya perjalanan ke Pattaya lebih “gila-gilaan” dari sekarang, kami sering sekali terantuk dan terhempas dengan keras. Makanya saya lebih tenang saat gelombang meliuk-liukkan tubuh kami. Sementara wisatawan yang duduk di sebelah saya terlihat panik. Sesampai di Gili Trawangan kami disambut pasir pantai berwarna putih dan cuaca yang sangat terik dengan langit berwarna biru bersih.

 

Saat berada di Gili Trawangan, saya merasa berada di sebuah kota satelit. Mesin-mesin ATM berjejer di sepanjang jalan, lengkap dengan beraneka restoran, toko, dan bisnis penyewaan sepeda; papan selancar; keperluan untuk menyelam. Di sini juga bisa dijumpai berbagai penginapan, mulai dari losmen, hotel berbintang. Kalau Anda tidak ingin berlelah-lelah berkeliling menyusuri pulau ini tinggal minta jasa cidomo untuk mengantarkan, tinggal rogoh kocek Rp 150 ribu.

 

Saya dan suami menikmati minum jus di sebuah resto alam. Selesai bersantai kami memutuskan berjalan kaki melihat berbagai sudut. Pemandangan bule berjemur di pinggiran pantai yang bersih, bule wanita bersepeda dengan pakaian minim adalah hal biasa. Namun bule-bule di sini tidak diperkenankan untuk tampil polos, karena ada larangan untuk itu –  berbeda dengan Bali.

 

Saya dan suami tidak berniat mengelilingi seluruh pulau, karena cuaca yang sangat terik. Hanya titik-titik tertentu yang direkomendasikan saja. Sebelum pukul satu kami telah mengantongi tiket untuk balik ke pelabuhan Bangsal. Cuaca yang tidak bersahabat di sore hari – hujan yang turun deras – membuat kami memutuskan segera balik. Ternyata dugaan kami benar, di perjalanan pulang hujan turun, untung kami hampir sampai ke dermaga. Target kami berikutnya adalah berburu kuliner: makan ayam taliwang di Yessy Café, Senggigi yang berjarak 15 menit naik taksi dari hotel tempat kami menginap Holiday Resort Lombok.

 

Jujur keindahan Gili Trawangan tiada tara, fasilitasnya pun lebih lengkap. Pulau Pattaya di Thailad tidak ada apa-apanya dibandingkan Gili Trawangan. Cuma mereka lebih siap, penduduknya lebih profesional. Dipastikan jika naik boat di Thailand tidak bakal ada penumpang yang masih dengan santai merokok di atas kapal mengganggu penumpang yang lain. Saya menegur penumpang di sebelah saya yang merokok saat perjalanan pulang ke pelabuhan Bangsal. Alam yang seindah apa pun akan berkurang nilainya, jika tidak dibarengi dengan kemajuan sumber daya manusianya. Tapi yang pasti, suatu saat saya dan suami ingin kembali ke sini, menginap dan berleha-leha di pulau yang berbentuk seperti panekuk itu.

 

(download)

Berwisata di Negeri Seribu Mesjid

Berbicara mengenai Lombok, berarti membicarakan alamnya yang menawan. Namun ada hal menarik yang saya dapat dari cerita Lalu, sopir travel kami dan juga dari yang saya lihat di lapangan. Masyarakat Lombok belum terlalu maju SDM-nya. Waktu pertama mendarat di Bandara Internasional Lombok yang baru saja dioperasikan dua bulan lalu, saya sedikit kaget dengan kondisi bandara yang tidak terawat. Sampah berserakan di mana-mana, dan banyak masyarakat yang duduk-duduk di lantai luar bandara.

Masyarakat di sini, seperti yang diungkapkan Lalu, ke bandara seperti berwisata. Untuk menjemput satu orang kerabat saja yang datang dari Malaysia atau  Singapura, penjemputnya satu truk. Sejak bandara baru dibuka mendatangkan pekerjaan bagi masyarakat Lombok. Pengembala kerbau misalnya, mengubah nasibnya menjadi petugas kerbersihan.

Yang membuat saya tidak tahu berkata apa adalah saat Lalu mengisahkan tentang masyarakat Lombok yang berduyun-duyun naik truk saat Mataram Mall – mall terbesar di Lombok – dibuka. Masyarakat memuka sandalnya saat memasuki mall Pulang-pulang mereka kehilangan sandal, karena satpam membuang sandal mereka.

Meski begitu, saya dan suami senang bisa berwisata ke sini, karena masyarakatnya menyadari pentingnya wisatawan bagi negeri mereka. Hari kedua saya di Lombok diisi dengan city tour. Jika dari bandara ke hotel kami membayar Rp 200 ribu dengan menaiki mobil APV kepunyaan lalu, untuk city tour kami diminta membayar Rp 400 ribu. Menurut kami tarif segitu sangat murah, soalnya Lalu hanya mengantar saya dan suami, plus diantar ke tujuh tempat wisata yang menarik.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah desa Banyumulak. Di desa ini saya melihat bagaimana cara ibu-ibu membuat gerabah, mulai dari asbak, hiasan dinding, tadah gelas, aneka pajangan, dan yang menarik adalah kendi tempat minum. Kendi itu dinamakan kendi maling dan menjadi istimewa karena untuk mengisinya air dimasukkan dari bawah kendi, namun air tidak tumpah.

Dari Banyumulak, kami bergerak ke Desa Skarara. Terletak sekitar 20 km kota Mataram. Kegiatan sehari-hari masyarakat desa ini adalah menenun berupa songket atau kain khas Sasak lainnya. Satu songket sepanjang empat meter dan lebar 60 cm diseesaikan dalam waktu dua bulan dengan jam kerja mulai pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Makanya wajar jika tenunan di sini harganya mahal. Saya sempat mempraktikkan menenun songket. Saya dan suami juga beruntung dipasangkan pakaian adat Lombok.

 

Bertandang ke Desa Tradisional Suku Sasak

Sebelum waktu salat Jumat masuk, kami masih bisa menyinggahi Desa Sade, desa asli suku Sasak. Desa Sade merupakan dua dusun yang masih asli. Rumah-rumah dibangun dari konstruksi bamboo dengan atap dari daun alang-alang. Penduduknya berpencaharian sebagai petani dan wanitanya menenun songket. Saya sempat berbelanja prasmina yang mereka tenun dengan harga yang lumayan mahal.

Rumah-rumah di desa ini dilapisi dengan kotoran kerbau. Meski begitu saya tidak mencium bau tidak enak saat memasuki rumah di sana, karena mereka mencampurnya dengan bahan lain, meski warna hijau kotoran kerbau masih terlihat jelas. Penduduk desa Sade mayoritas Islam, namun masih dipengaruhi oleh Hindu dan animisme. Mereka percaya kotoran kerbau menolak roh-roh jahat.

Pemandu wisata bercerita di desa yang terbentuk tahun 1709 yang mempunyai 152 KK dan 700 jiwa ini memiliki  tradisi yang masih dipegang teguh sampai saat ini: kawin culik. Laki-laki menjadi “maling” untuk menculik perempuan yang disukainya. Perempuan yang berhasil diculik mau tidak mau terpakasa bersedia diperistri. Saya juga melihat ranjang anak perempuan yang diasingkan di lantai atas di atas tempat tidur orang tuanya untu menghindari terjadi penculikan.

Lalu Fauzan dan pemandu wisata mengaku mereka pun terpaksa menculik untuk bisa menikah. Selain kawin culik, ada kawin lari didasarkan suka sama suka.

Di sisi lain, Lombok terkenal mempunyai banyak masjid, sehingga tidak sulit mencari masjid di daerah ini. Makanya kami pun berhenti di masjid dekat pantai Kuta menunggu suami saya dan Lalu salat Jumat.

Selesai salat, kami mengisi perut  di Café Full Moon sembari memandang keindahan pantai Kuta. Café ini berada di pinggir pantai. Desa Kuta dengan pasir putihnya terletak di pantai selatan Pulau Lombok. Dikelilingi oleh deretan perbukitan, sehingga pada pagi hari pemandangan menakjubkan dapat dilihat dari puncak bukit. Saat cuaca sedang cerah, puncak Rinjani yang jauh di Utara juga dapat terlihat. Di sini saya menyempatkan diri membeli songket Lombok lengkap dengan selendangnya dan prasmina, serta gelang-gelang khas Lombok.

Keindahan laut dan pantai belum berakhir. Lalu mengajak kami berkendara sekitar 15 menit menuju Tanjung Aan. Saya menyaksikan kecantikan pantai Aan yang terletak tiga km ke arah timur Kuta sangat luar biasa. Lautnya yang berwarna biru kehijauan dengan air yang jernih djadikan tempat favorit untuk berenang dan menyelam. Wisatawan juga senang memancing di tempat ini, karena teluknya yang indah berpasir putih ini memiliki spot-spot yang dihuni banyak ikan.  Pantainya yang berpasir putih dan memiliki pasir sebesar biji merica juga merupakan nilai tambah bagi pantai Aan.

Singgah di Narmada, Tempat Air Awet Muda

Dari Tanjung Aan, kami diajak ke Taman Narmada. Di sana konon ada air awet muda yang berasal dari pegunungan. Di tempat yang banyak memiliki undakan tangga itu pemandangan lembah dan danau buatan disuguhi di depan mata. Begitu juga dengan rumah tempat peristirahatan raja dan pemandian ratu serta para selir. Air awet muda yang terletak di sebuah bangunan yang dikunci tidak sempat saya cicipi. Soalnya ada juru kunci yang akan melakukan ritual keagaamaan Hindu sebelum memberikan air itu untuk diminum. Karena prosesnya yang ribet, saya membatalkan untuk melihat air awet muda itu.

Di pintu keluar mata saya tertumbuk dengan jajaran perhiasan mutiara. Di sana ditawarkan berbagai perhiasan dari mutiara air tawar. Saya membeli dua lusin bros, selusin cincin, beberapa kalung untuk oleh-oleh plus gelang mutiara gagal (mutiara yang menempel di kerangnya) buat saya. Saya juga ditawarkan batu mutiara laut berwarna kuning yang harganya Rp 1,7 juta. Saya tidak berani membelinya di sini, soalnya kata Lalu sebaiknya kalau untuk mutiara asli air laut dibeli di tempat toko yang telah dilabeli oleh Pemda.

Selesai di Narmada, kami dibawa ke pusat oleh-oleh di Ima Mulia, Jl. Pangeran Diponegoro, Sayang-Sayang, Mataram, Lombok. Di sini saya melihat-lihat mutiara air laut dan juga air tawar. Saya pun menanyakan mutiara air laut berwarna kuning. Kualitas nomor satu dijual Rp 800 ribu per gram, saya pun menjatuhkan pilihan ke sebuah batu mutiara kuning yang berkilau dan mulus. Mutiara seberat hampir dua gram itu dihadiahi suami sebagai kado ulang tahun pernikahan plus cincin yang dibelinya di Jakarta sebelumnya. Saya pun kegirangan dan mengucapkan terima kasih.

Di Ima Mulia, saya juga membeli tiga botol madu. Oh ya Lombok juga dikenal sebagai negeri penghasil madu terbaik. Botol pertama adalah madu susu terbuat dari air liur lebah, bagus untuk pertumbuhan tulang dan anak-anak. Botol kedua adalah madu hitam untuk terapi berbagai penyakit dan sisanya adalah madu biasa.

Belum juga lewat Magrib, kami telah diantar Lalu sampai di hotel. Perjalanan city tour hari ini sangat berkesan. Banyak tempat, banyak tambahan pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat hari ini. Tentu saja masih banyak tempat yang masih ingin saya kunjungi di daerah ini.

021220113972

Click here to download:
021220113970 (88 KB)

(download)

Merayakan Ulang Tahun Pernikahan di Kota ‘Mutiara’ Lombok

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya dan suami merayakan ulang tahun pernikahan dengan bepergian ke tempat indah. Tahun ini kami memiih Lombok. Jadilah di hari Kamis, 1 Desember 2011 kami bepergian ke negeri yang terkenal sebagai penghasil mutiara itu.

Ternyata pilihan kami tak salah. Lombok yang terletak di Nusa Tenggara Barat itu sungguh eksotis. Dengan memakai jasa Lalu Fauzan – sopir travel yang kami sewa jasanya mengantar kami ke hotel dari bandara Internasional Lombok—kami disuguhi pemandangan yang indah. Terutama saat memasuki kawasan Senggigi, tempat Holiday Resort Lombok – hotel kami – berada. Di sepanjang jalan yang saya lewati , saya tersihir dengan laut yang bisa dilihat dari ketinggian jalan raya di sebelah kiri, sedangkan di kanan jalan alam dengan pohon-pohon hijau.

Seperti biasa suami saya memesan hotel itu lewat Booking.com. Beruntunglah kamar di hotel berbintang lima itu didiskon spesial untuk kami. Seharusnya semalam kami harus membayar Rp 1,4 juta, namun kami hanya membayar Rp 600 ribu, karena banyak poin yang telah terkumpul dari memesan hotel sebelumnya.

Menurut Lalu, ada lima hotel berbintang lima di Lombok, yaitu Holiday Resort, Sheraton, Jayakarta, Senggigi Beach Hotel, dan Oberoi. Hotel kami berbatasan langsung dengan laut yang memanjang di sepanjang utara Senggigi. Waktu check-in saya sedikit histeris, karena dari lobi saya bisa melihat kolam renang yang dibangun melingkar bersentuhan langsung dengan garis pantai.

Kami menempati kamar cottage di lantai atas. Dari teras kamar yang dibangun dari kayu, saya bisa memandang laut yang berwarna biru cerah dengan awan menggumpal berarak di atasnya. Pohon pinang dan nyiur berselingan memberikan kehijauan dan seliweran angin sepoi ditingkahi debur ombak.

Rasa bahagia tak terkira, dengan sungguh-sungguh saya mengucap syukur,” Tuhan terima kasih atas semua keindahan hari ini. Terima kasih telah menyatukan kami selama 16 tahun ini dalam mahligai pernikahan”.  Dengan senyum tulus saya mencium tangan suami dan berterima kasih kepadanya untuk semua cinta, kesetiaan, kebahagiaan, dan pelajaran hidup berharga yang dituntunnya untuk saya. Semoga keindahan ini untuk selamanya. Amin…

 

(download)

Tuhan Teramat Baik terhadap Kami (Catatan Hari Terakhir)

Hari-hari terus bergulir di Bangkok. Kota yang tak pernah sepi itu telah menemani hari-hari saya. Hari ini Selasa, 13 September masuk hitungan ke-9 saya dan suami berada di situ. Saatnya kami meninggalkan negeri yang telah mencuri hati kami.

Saya mulai menyusun satu-satu pakaian kotor ke dalam satu tas. Koper besar yang saya isi dengan oleh-oleh, ternyata masih belum cukup. Bingkisan yang tersisa saya masukkan ke dalam tas besar yang memang saya persiapkan dari rumah. Ditambah satu kantong lagi berisi tas khas Thailand, bawaan yang dijinjing untuk dibawa ke kabin bertambah menjadi dua item.

Pukul setengah sebelas kami meninggalkan Bally’s Studio Suites Hotel di Sukhumvit 20 itu. Ada perasaan sedih, namun ada pula perasaan senang hendak pulang. Sampai di bandara kami masuk dengan mudah tidak harus memeriksa bawaan. Kami langsung ke loket Thai Airways dan check-in. Dari sana kami turun ke lantai dasar untuk makan siang.

Sebelum sampai ke restoran yang kami inginkan, saya menemukan musala, kami pun bersorak gembira,“Asyik kita bisa salat dulu di sini.” Kami mencari restoran dulu untuk makan siang, supaya salat kita khusuk kata suami saya. Saya mengamini dan menemaninya berjalan. Di restoran Goodie untuk pertama kalinya saya memesan tom yam di negara asalnya dan suami saya memesan nasi goreng vegetarian. Rupaya pilihan saya tidak salah, saya telah memesan tom yam terenak sedunia yang pernah saya coba. Rangking duanya adalah tom yam yang pernah saya nikmati di restoran Malaysia di Distrik 3 Ho Chi Minh City, Vietnam.

Selesai makan, saya salat duluan, suami saya menunggu tas di luar. Subhanallah musalanya rapi dan bersih sekali. Saya merasa senang, karena pemerintah Thailand memperhatikan hal ini. Saya pun dibantu seorang pria Arab saat saya buka sepatu untuk memastikan di mana tempat beruduk untuk wanita. Ukhuwah Islamiyah terjalin di situ, suatu hal langka yang saya peroleh di kota ini.

Selesai suami salat, kami masuk ke ruang boarding. Di sana pemeriksaan lebih ketat dari Indonesia. Jangan heran Anda disuruh membuka sepatu segala, sama halnya dengan bandara Ninoy Aquino di Manila. Kemudian kami segera bergegas ke ruang boarding di ruang C10.  Ternyata ruang boarding kami jauh sekali letaknya paling ujung. Lima belas menit untuk sampai ke sana, kami berjalan cepat, kadang setengah berlari. Pandangan saya sempat menjelajah ke kursi-kursi yang berada sepanjang ruang keberangkatan ini. Semuanya berwarna hijau daun, lagi-lagi kaya warna, sama halnya dengan patung berwarna meriah yang berbaris di dekat ruang boarding. Untunglah kami sampai tepat waktu di ruang boarding Thai Airways, karena di layarnya tertera final call.

Sama dengan saat berangkat dulu, kali ini kami pun mendapat kursi di bagian belakang. Thai Airways ini terdiri dari tiga bagian/ ruang. Paling depan di kiri pintu masuk adalah untuk penumpang kelas bisnis, sedangkan dua ruang di sebelah kanan adalah untuk kelas ekonomi. Namun yang berbeda kali ini dengan keberangkatan adalah soal makanan. Makanan yang disajikan lumayan enak, omelet dengan nasi goreng, atau bisa juga memilih menu ayam dengan peningkahnya. Tapi kami dengan menyesal tidak bisa menghabiskan semua, karena perut kami masih kenyang.

Tepat pukul 14.30 pesawat Thai Airways lepas landas dari bandara Suvarnabhumi. Perjalanan yang diselingi dengan tidur itu berdurasi tiga jam 20 menit. Pukul enam kurang 10 pesawat kami telah menjejak Soekarno Hatta. Setelah melewati imigrasi dan mengambil tas, kami berjalan keluar. Di sana telah menunggu Pak Ginting, sopir setia kami. Saya girang saat sudah di mobil lagi, kami langsung menyetel CD Thailand yang kami beli di Bangkok.

Saya melirik ke pergelangan tangan, pukul 19.15. Saatnya tepat untuk mengisi perut, jadwal makan malam telah tiba. Seperti biasa kalau dari bandara kami berhenti dulu di Restoran Sederhana Cikokol. Masakan di sana memang menggoda iman. Sampai di rumah saya tidak bisa berleha-leha, karena besok saya harus ke Bandung, kuliah telah menunggu. Dengan mata  mengantuk saya memisahkan oleh-oleh yang akan saya bawa besok.

Meski ada satu hal yang saya sesali waktu di Bangkok – tidak sempat mencoba makan di restoran halal di belakang hotel yang baru saya tahu semalam – saya tetap bersyukur. Dalam segala hal Tuhan teramat baik terhadap kami, memberi kami waktu dan kesempatan untuk berlibur. Dan saat suami bertanya kepada saya apakah saya ingin kembali lagi ke kota itu, dengan mata berbinar saya jawab, “Tentu saja saya mau, dengan segala senang hati.”

(download)

Merayakan Hari Ulang Tahun Suami (Catatan Hari Kedelapan)

Hari ini saya bangun dengan riang gembira, setelah tepat pukul 12 malam tadi saya menyanyikan lagu happy birthday untuk suami saya tercinta. Ya hari ini Senin, 12 September dia tengah merayakan hari jadinya. Sebenarnya alasan utama kami ke Bangkok ini adalah merayakan hari ulang tahunnya. Tak terasa sudah belasan tahun saya ikut merayakan hari ulang tahun dia, selalu di sampingnya. Yang berbeda tahun ini adalah kami merayakannya di sini.

Setelah sarapan, kami hanya bermalas-malasan di kamar. Selain itu suami saya juga mengerjakan beberapa hal terkait dengan pekerjaannya. Saya juga menulis untuk blog saya – suatu hal yang ingin  saya lakukan konsisten setiap bepergian.

Sorenya pukul 5 kami baru melangkah ke luar hotel. Tujuan kami adalah Emporium Department Store. Awalnya kami ingin naik tuk tuk, tapi pegawai hotel mengatakan kalau kami bisa berjalan kaki, karena jaraknya dekat. Untuk ke sana ada jalan tembus dari Imperial Quen’s Park Hotel. Ternyata di belakang hotel Imperial ada taman kota yang indah, bersih, dan lapang, bahkan ada danau buatan dengan air mancurnya. Kami berteriak, “Where have we been before?”. Selama ini kami tidak pernah jalan ke belakang hotel, kami selalu keluar lewat jalan depan, karena jalan searah.

Kami tak mau rugi, setelah mengambil foto-foto taman, kami duduk-duduk memandangi keindahan berbalut sore yang cerah. Melihat orang-orang berolahraga, senam, joging, dan anak-anak yang bermain ditemani orang tuanya. Tepat pukul enam lagu kebangsaan Thailand terdengar berkumandang dari pengeras suara. Semua orang sontak menghentikan kegiatannya. Termasuk anak-anak yang tengah bermain, semuanya berdiri sebagai tanda hormat. Kami pun ikut berdiri.

Setelah itu kami pun berjalan kaki lagi ke Emporium Department Store. Sekilas mall ini mirip dengan Plaza Senayan. Di sana kami makan malam di Burger King. Sebelum balik ke hotel kami masih membeli kue sus lima buah seharga THB 200 (Rp 60 ribu). Kami tak terlalu tertarik mengitari mall ini, karena barang-barangnya banyak yang serupa dengan PS di Jakarta. 

Saya hanya membayangkan segera sampai di hotel dan kembali ke kamar menyelesaikan tulisan ini sebagai salah satu kado untuk suami tercinta – sebab saya rajin menulis adalah salah satu alasannya mencintai saya...

(download)

Melongok Pagoda (Catatan Hari Ketujuh)

Tak terasa seminggu sudah saya berada di kota Bangkok. Hari ini rute kami adalah mengunjungi beberapa candi dan pagoda yang terkenal di kota ini. Pukul 9 pagi, Busaba Sivasomboon telah menjemput kami di lobi hotel. Busaba adalah teman suami saya semasa dia mengikuti program NSK (Nihon Shimbun Kyokai) Fellowships Program di Jepang selama tiga bulan pada tahun 1996 silam. Saat turun ke lobi dan melihat suami saya memakai celana pendek dia sarankan untuk diganti, karena akan memasuki candi dan pagoda.

Berangkat dari hotel naik taksi membuat perjalanan menyenangkan, karena saat ini jalanan kota Bangkok lengang. Mungkin karena hari Minggu, banyak orang beristirahat di rumah ditambah hujan yang lumayan deras. Tempat pertama yang kami tuju adalah Grand Palace yang terletak di kawasan bersejarah di Bangkok.

Di sana kami baru bertemu dengan umat yang ramai dari berbagai negara. Rasa sesak mulai terasa, ditingkahi hujan gerimis. Tempat yang luas ini masih menawarkan para turis untuk masuk ke dalam istana raja dengan membayar THB 400 (Rp 120 ribu). Saya katakan kepada suami dan Busaba tidak usah masuk, saya tidak nyaman melihat sesaknya pengunjung. Setelah usai berfoto-foto di halaman Grand Palace, kami putuskan segera beranjak.

Karena hujan belum juga berhenti, Busaba membeli topi coklat yang saya pilihkan untuknya. Kami lanjut berjalan kaki sekitar 10 menit untuk sampai ke dermaga. Di sana telah menunggu semacam ferry sederhana untuk menyeberangkan kami ke lokasi candi berikutnya. Hanya membayar THB 3 (Rp900) kami pun diseberangkan menuju Candi Lonceng. Candi Lonceng adalah candi Budha.

Di dermaga saya melihat banyak sekali ikan patin berkumpul. Menurut kepercayaan mereka ikan itu tidak boleh ditangkap. Di tepi dermaga kita juga bisa membeli ikan dan kura-kura kecil yang harus dilepas lagi ke sungai. Mereka percaya kalau ikan dan kura-kura tadi dibuang ke sungai lagi bisa membuang sial dan keberuntungan segera di tangan.  Namun Busaba sendiri tidak terlalu yakin dia memeluk agama apa, tidak juga yakin kalau dia penganut Budha. Yang penting hidup dengan baik saja katanya.

Kemudian kami naik taksi ke Wat Arun. Suasana di sini sepi sekali, kontras dengan Grand Palace. Saya sempat menyaksikan para biksu bercukur. Bangunan candinya pun indah seperti motif  keramik porselin. Ada juga patung-patung gajah dan candi mirip Borobudur dengan ukuran yang lebih kecil tapi bermotif warna-warni corak bunga berbahan porselin di dindingnya. Untuk menaiki candi tersebut sampai ke puncak dikenai biaya THB 50 (Rp15). Tapi saya tidak tertarik berlelah-lelah mendakinya. Cukup mengagumi keindahannya dari kejauhan saja.

Di kawasan candi ini terdapat sebuah pohon yang dalam bahasa latinnya bernama Shorea Robusta Roxb yang diyakini tempat kemunculan sang Budha. Pohon ini bentuknya unik: mempunyai daun di pucuk-pucuknya, namun di bawahnya ada buah yang mengeluarkan bunga berwarna krem kemerah-kemerahan. Setelah puas memoto banyak bagian indah di sini, kami berjalan kaki lagi menuju Wat Pho (http://www.watpho.com).

Setiap wisatawan asing dipungut biaya THB 50 (Rp 15 ribu), namun bagi penduduk Bangkok tidak dipungut bayaran. Memasuki Wat Pho, kami harus melepas alas kaki dan pengunjung harus berpakaian sopan. Seorang wanita ditegur di depan saya karena memakai baju tak berlengan, akhirnya dia memasang balero yang telah disiapkannya. Beruntunglah saya yang berpakaian tertutup, seperti di-Aminkan oleh Busaba dan beruntung pula suami saya yang memakai celana panjang.

Di dalam Wat Pho, saya melihat patung Budha raksasa berwarna kuning. Saya terkagum-kagum dengan teknologinya, belum lagi dinding yang dihiasi dengan berbagai lukisan dengan corak dominan lukisan alam seperti bunga-bungaan berbagai warna. Bangunan itu terasa sangat sejuk, karena lotengnya yang sangat tinggi.

Dari Wat Pho kami diajak naik tuk tuk ke Ban Pra Athit di kawasan Bang Lam Poo. Busaba mengajak kami ke kafe yang sangat nyaman. Di sana saya memesan minuman serupa dengan Busaba berupa Thai green tea , sedangkan suami saya memesan ice coffee. Untuk kue pesanan saya sama dengan suami: carrot cake, sedangkan Busaba memesan cheese cake. Di sana kami berbincang panjang lebar tentang perilaku wartawan di Bangkok dan Asia. Suami saya juga lebih intens berkomunikasi soal politik dan jurnalisme dengan Busaba.

Selesai minum teh, Busaba mengantar kami balik ke hotel dengan taksi. Masih siang, masih pukul setengah dua. Jadi kami bisa tidur siang lagi dengan agenda sore harinya berenang. Pukul setengah lima setelah tidur siang, kami naik ke lantai enam. Gerimis yang lumayan lebat mengguyur kolam. Untung saja tekad kami kuat, kami tetap berenang meski awalnya sempat kedinginan, karena tidak melakukan pemanasan dulu. Lumayan juga sore itu saya bisa berenang 70 kali bolak-balik sepanjang 10 meter.

Mencoba Nonton di Siam Paragon

Siap berenang dan mandi di kamar, salat Magrib, kami pun turun ke lobi. Taksi pun melaju mengantar kami ke Siam Paragon Mall. Mall yang sekaliber dengan Pacific Place di Jakata ini mempunyai tempat nonton di lantai lima: Cineplex Paragon. Teman kami Saskia merekomendasikan bioskop ini.

Sumpah, saya benar-benar kagum dengan kecanggihan Cineplex Paragon, seperti orang udik yang baru ke kota. Untung saja saya masih bisa menguasai diri dan tidak membuka mulut lebar-lebar. Saya sampai kehabisan kata-kata untuk menuliskan kecanggihannya. Saya berharap suatu saat Anda akan ke sini dan menilai sendiri.

Kami memesan tiket untuk nonton Zookeeper di studio 14. Harga 1 tiket THB 230 (Rp 69 ribu) per orang. Film yang akan kami tonton dimulai pukul 21.00 waktu setempat. Kami makan malam dulu McD di lantai satu. Selesai makan kami kembali naik ke lantai 5.

Sampai di sana, kami harus naik eskalator yang sangat tinggi, seperti kalau kita naik dari stasiun MRT keluar ke jalan raya. Hebatnya lagi bioskop ini juga menawarkan bangku VIP yang berada di urutan belakang. Mereka diberi sofa yang diberi selimut untuk dua orang. Sound systemnya jangan ditanya, sudah pasti keren abis. Pantas saja industri film Thailand maju pesat, semua infrastruktur mendukung. Setelah 15 menit menyuguhkan iklan dan thriller, lagu kebangsaan Thailand dikumandangkan. Semua penonton berdiri memberi hormat, termasuk kami. Untung saja sebelumnya Saskia telah memberi tahu kami soal itu.

Pukul 11 malam kami keluar bioskop dan tuk tuk mengantar kami balik ke hotel. Terlihat Bangkok masih ramai. Saya juga menyaksikan wanita menyetop taksi di gang kecil tanpa rasa takut. Memang Bangkok aman meski waktu malam. Saat rebahan di kamar, suami saya berkata, “Indah sekali hari ini, banyak tempat yang kita kunjungi, banyak aktivitas yang kita lakukan, hari terasa produktif”.

 

(download)

Mengubek-ubek Chatuchak (Catatan Hari Keenam)

Setelah mempelajari peta semalam, hari ini kami  berbelanja ke pasar terbesar di kota Bangkok: Chatuchak Weekend Market. Pasar yang adanya di hari Sabtu dan Minggu itu atas rekomendasi dari teman-teman kami yang sudah pernah bereksplorasi ke sana: Saskia yang tinggal Ho Chi Minh dan Rara, si dokter gigi yang juga blogger itu. Kami diantar mobil hotel ke jalan besar, lumayan menghemat lima menit jalan kaki dan disambung lima menit lagi berjalan kaki ke stasiun Asok untuk naik SkyTrain, Bangkok Mass Transit System (BTS).

Untuk sampai ke stasiun disediakan jembatan penyeberangan yang bersih dengan jalan yang lebar. Kami naik dari Stasiun Asok dengan membayar THB 40 (Rp12.000) per orang. Pukul 10 pagi itu ternyata adalah jadwal sibuk, kereta padat penumpang, beruntung masih ada ruang untuk kami. Meski padat, keretanya nyaman dan bersih. Setelah empat stasiun terlewati, saya kebagian tempat duduk. Kami turun di stasiun Mo Chit usai melewati tiga stasiun berikutnya.

Turun dari kereta kami disambut hujan yang lumayan lebat. Setelah 10 menit menunggu, kami turun tangga stasiun ke trotoar yang terhubung ke pasar Chatuchak. Kami menerobos gerimis dan berjalan kaki sekitar 10 menit. Pemerintah Thailand telah menyiapkan peta yang rapi. Termasuk pasar Chatuchak ini. Di peta tersebut dijelaskan kalau pasar  ini dibagi atas 26 zona. Meski pasarnya sederhana, seperti pasar kaget yang sudah ada kios-kiosnya, namun pasar ini sangat terorganisir dengan rapi.

Pengunjung tidak perlu bingung mau ke mana, karena di peta dijelaskan apa saja yang ditawarkan di sana. Books and collectibles ada di zona 1 dan 27,  plants and gardening tools di zona 3 dan 4. Yang paling banyak tentu saja zona penjual pakaian dan aksesori yang dijual di zona 5, 6, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 21, dan 23.  Di peta juga tertulis tentang area tourist police, traffic police booth, bank, city police, bus stop, first aid, clock tower, telephone, toilet, entrance, main entrance. Saya jadi tambah kagum dengan pemerintah di sini. Pantas saja pariwisata mereka lebih maju dari kita.

Yang menarik, semua penjual menawarkan harga yang serupa. Kalau pun berbeda, paling seratus Baht (Rp 30 ribu), itu pun masih bisa ditawar. Hal itu sangat berbeda kalau kita berbelanja di Ben Thanh Market, Ho Chi Minh, Vietnam. Tak ada harga yang seragam, kita harus benar-benar ahli menawar, bahkan sepertiga harga. Di sini untuk menawar setengah harga saja susahnya minta ampun, mentok-mentok sepertiga atau seperempat saja. Jadi saya pun nyaman berbelanja di sini, tanpa takut ditipu.

Barang pertama yang saya beli sebagai oleh-oleh adalah scarf asli buatan Thailand, kata penjualnya, bukan buatan Korea atau Cina. Scarfnya bagus, unik, seperti selendang panjang dirajut dengan komposisi warna-warni yang menarik. Saya beli 10, berikut rompi dengan bahan serupa dua buah, plus gelang 20 buah, dan kalung. Total belanjaan saya di tempat pertama itu adalah THB 4.500 atau sekitar Rp1.350.000, not bad.

Di depan toko itu mata saya tertuju pada topi yang ada tulisan Bangkok, Thailand-nya. Sebanyak 10 topi langsung berpindah tangan. Sekarang saatnya berburu tas yang tentu saja ada khas Thailandnya, yaitu gambar gajah. Saya beli setengah lusin, juga tempat tisu, mainan pembatas pintu, baju kaus, pajangan: ada sendok; garpu; lonceng; piringan, magnet kulkas, dompet, dan gantungan kunci.

Saya juga membeli songket Thailand berwarna merah marun keemasan pilihan suami atas saran dari teman suami saya di twitter. Songket itu panjangnya empat meter, dan saya belum ada ide songket itu modelnya seperti apa kalau dijahit. Songket cantik itu saya beli dengan harga diskon yang cukup tinggi. Awalnya penjualnya menawarkan harga THB 800 (Rp 240.000), diakhiri dengan saya mengeluarkan uang sebesar THB 450 (Rp 135.000). Suami saya juga menambah belanjaan siang itu dengan tiga bungkus manisan mangga titipan temannya lewat http://bistip.com.

Rasanya belanjaan sudah lengkap, belum lagi dengan tambahan belanja hari-hari sebelumnya di GEM Production dan Platinum Fashion Mall. Dua kantong besar belanjaan yang lumayan berat kami tenteng sembari mencari tempat makanan yang halal. Secara tak sengaja mata suami saya melihat ada tulisan Arab di sebuah warung makan di zona 10. Di sana terlihat banyak orang berjenggot yang makan. Saya pun masuk dan bertanya kepada penjualnya, perkiraan suami saya benar, di situ memang Muslim Foodcourt. Kami memesan nasi plus ayam goreng seharga Rp12.000.

Sewaktu berjalan ke stasiun Mo Chit lagi, kami tak sengaja melihat ada black tea, teh tubruk khas Thailand yang dipesan Rara. Kami pun langsung membelinya dua kaleng. Dengan naik SkyTrain kami kembali ke hotel. Beruntunglah di pinggir jalan besar menuju hotel kami bertemu Chai, sopir tuk tuk langganan kami. Dia pun dengan senang hati mengantar ke hotel. Dia tidak mau menerima uang yang kami beri, tapi suami saya tetap memaksa.

Pukul setengah tiga kami sudah di kamar lagi, masih cukup waktu untuk tidur siang sebelum keluar lagi bertemu teman pukul lima sore nanti.  Kami bakal bertemu Dimas, teman suami saya di Starbucks lantai dasar Exchange Tower. Kalau berjalan kaki cuma 10 hingga 15 menit dari hotel, namun suami saya mengirim sms untuk Chai. Chai mengantar kami ke sana, namun kali ini dia benar-benar menolak untuk dibayar dan langsung ngacir. Kami Cuma bisa bilang sawadhi khap..

Di Starbucks Dimas sudah menunggu kami. Saya dan suami segera memesan ice coffee dan cheese cake. Dari Dimas yang bekerja di Ford dan sudah tinggal di Bangkok  sejak tiga bulan ini, saya lebih banyak tahu tentang kota ini. Semuanya sama seperti yang saya persepsikan.

Kilasan kesan tentang kota Bangkok:

•    Gadis Thailand fashionable, cantik-cantik, tinggi-tinggi, langsing-langsing meski makannya banyak. Mungkin karena mereka ke mana-mana lebih banyak jalan kaki.
•    Secara wajah, orang Thailand lebih mirip orang Filipina, meski orang Vietnam merasa mirip dengan bangsa Imelda Marcos ini – padahal kenyataannya wajah mereka lebih mirip bangsa Cina.
•    Kota Bangkok bersih dan rapi, bahkan hingga ke gang-gang kecil. Padahal menurut Dimas susah sekali mencari tempat sampah di kota ini.
•    Pemerintahnya sangat memperhatikan aspek-aspek yang berhubungan dengan kenyamanan. Di sini kita tidak takut menyandang ransel di punggung meski ada HP dan dompet di sana, karena aman.
•    Saya pun juga merasa nyaman saja memakai perhiasan emas, meski pulangnya larut. Satu hal yang tidak bakal saya lakukan di angkutan umum Jakarta.
•    Orang-orang Bangkok memang telah siap menyambut wisatawan. Bayangkan sopir tuk tuk juga mempunyai kartu nama.
•    Banyak sekali terdapat convenient store seperti 7 Eleven, Family Mart. Di sekitar hotel saya saja ada tiga atau tempat. Jadi kalau perlu apa-apa tinggal berjalan kaki tiga menit. Biasanya kami suka membeli telur dan cemilan.

(download)

Histeris di Platinum Fashion Mall (Catatan Hari Kelima)

Setelah seharian kemarin jalan ke Pattaya, hari ini saya keluar kamar setelah selesai waktu salat Jumat. Tempat yang dituju siang ini adalah atas rekomendasi seorang teman, namanya Karen yang bekerja di Yahoo! South East Asia, Singapura. Platinum Fashion Mall di daerah Pratunam disarankannya untuk dikunjungi.

Kami naik taksi dari hotel yang terletak di Sukhumvit 20. Sebenarnya kalau jalanan lancar 20 menit kami sampai di Platinum. Tapi siang itu Bangkok macet lagi seperti malam tadi. Waktu yang ditempuh dua kali lipat segera terganti kegirangan begitu saya sampai di mall sembilan lantai itu. Betapa tidak saya langsung histeris melihat banyak sekali pakaian yang dijual di sana. Aneka model, bahan, corak, dan warna.

Yang membuat saya histeris adalah harganya yang jauh lebih murah, setengah bahkan sepertiga harga dari Jakarta dan FO di Bandung. Saya jadi tahu model unik, seperti balero; rompi; kardigan: beragam blus, rok; celama; jaket yang dijual di Jakarta dan Bandung – pasti dibeli dari sini.

Jenis barang yang dijual di sini kualitasnya mirip FO-FO di Bandung, cuma suasananya ala mall grosiran seperti Mangga Dua. Karena mall ini memang salah satu pusat grosir di Bangkok. Jika kita membeli satu item, harganya akan berbeda jika kita beli tiga – tapi tidak harus barang sejenis, boleh berbeda yang ada di toko itu. Kita tidak harus membeli blus yang sama tiga buah, cuma beda warna dan ukuran seperti Cipulir atau Tanah Abang, tapi boleh membeli kardigan, blus, atau rok. Jadi penjual di sini lebih fleksibel.

Selain itu mereka juga ramah, tidak marah kalau kita tidak jadi beli karena harga atau warnanya tidak cocok. Di lantai satu saya membeli kardigan, rompi, blus buat saya dan juga keponakan-keponakan perempuan. Di lantai dua saya tambah lagiu dengan long dress, tiga kalung unik warna-warni.

Seperti kebanyakan mall, di sini pun belum terlihat baju laki-laki. Padahal sudah tiga lantai yang saya naiki. Suami saya merajuk sambil bercanda, “Ayo kita cari di mana yang jual baju buat pria”.  Senyum lebar langsung mengembang di wajah suami saya, setelah lantai keempat ada papan penunjuk yang bertulis “men clothes”. Ternyata tempatnya pun tersuruk di ujung lorong.

Untung saja kami segera bertemu dengan toko yang menjual celana pendek. Kami langsung membeli tiga buah, warna coklat muda, putih, dan hitam bergaris putih kecil. Senyum suami saya tak jadi hilang, dan semakin mengembang saat bertemu toko yang menjual kemeja flanel.

Pria yang saya nikahi lebih dari 15 tahun ini sedang suka dengan kemeja flanel. Karena kalau cuaca panas, bahannya terasa sejuk, kalau udara dingin bahannya menjadi terasa hangat. Selain itu kami juga membeli kemeja polos krem. Saya juga membeli dua legging warna kuning dan hitam. Bahannya sungguh sangat sejuk dan nyaman dipakai. Meski kualitasnya bagus legging tersebut tidak terlalu mahal, dua buah saya beli THB 550 (Rp 175.000).

Setelah menjelajahi beberapa lantai, kami memutuskan untuk makan malam lebih awal. Karena selain perut mulai terasa lapar, suami saya juga mempunyai janji untuk bertemu dengan temannya. KFC menjadi pilihan kami. Untuk dua kentang goreng, dua ayam goreng, dua minuman, burger, dan tiga egg tart kami hanya membayar THB 200 atau Rp 60 ribu. Murah sekali dibanding KFC di Jakarta. Selain itu ayam goreng di sini lebih gurih terasa.

Usai makan, kami bersigegas meninggalkan mall yang mempunyai tempat parkir di lantai sembilan itu. Di luar gedung, armada taksi tidak memadai, antrian panjang terlihat. Akhirnya kami memutuskan naik tuk tuk. Macet pun diterabas oleh pengemudi tuk tuk itu. Kami sampai hotel sesuai rencana. Selesai salat Magrib, suami saya langsung pergi menemui temannya. Dan saya tinggal di kamar menyelesaikan tulisan ini...

(download)

Filed under: travel

Mengarungi Pesona Pattaya (Catatan Hari Keempat)

Hari keempat di Bangkok saya nikmati dengan mengikuti paket wisata yang ditawarkan EBC Pattaya Tour. Bersama suami saya sudah duduk di lobi hotel pukul setengah tujuh – sesuai dengan jadwal tur. Lewat 10 menit datang sopir EBC menjemput kami. Di dalam mobil travel sudah ada pasangan India paruh baya – yang kemudian saya ketahui telah menjadi warga negara Inggris.

Setelah itu kami menjemput lagi tiga orang (lagi-lagi India) yang terdiri dari Bapak, anak lelaki, dan cucu lelaki. Acara jemput-menjemput ini berakhir setelah pasangan muda Taiwan kami singgahi di Empire Hotel. Total semua yang ada di mobil van ada 13 penumpang (satu bocah laki-laki, pasangan Nepal, saya dan suami, sisanya orang India, plus sopir.

Tujuan kami sama: pantai Pattaya dan dilanjutkan ke pulau Tawean (pulau Coral). Mobil van melaju menuju Pattaya pukul 08:00 waktu setempat – tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta. Perjalanan kami dipenuhi dengan celoteh para penumpang lain yang lumayan “mengganggu telinga”. Sepertinya mereka punya energi yang tidak habis-habisnya untuk bicara.

Karena malamnya kami tidur agak larut, maka kantuk pun tak bisa ditahan. Mata berat mengalahkan gangguan pada telinga. Mata saya baru membuka lagi setelah jarum jam berada di angka 10. Van yang kami tumpang berhenti di rest area KM 48.  Di sana para peserta tur diberi waktu 15 menit untuk ke toilet dan melihat-lihat makanan kering yang dijual di sana.

Di toko itu dijual aneka keripik dan manisan. Yang paling saya suka adalah keripik durian monthong yang dijual sebungkusnya Rp 60 ribu,  monthong durian paste (dodol durian Monthong) yang dijual Rp 80 ribu. Saya membeli masing-masing dua bungkus. Selain itu juga ditawarkan manisan dan keripik mangga; jambu biji; goreng cumi dan seafood. Tapi di sini mereka tidak memproduksi keripik nangka, seperti yang banyak dijual di Malang, bahkan Jakarta.

Rombongan melanjutkan perjalanan ke Pattaya. Satu jam berikutnya kami sampai di Pattaya dan pandangan mata langsung tertumbuk ke pantai yang berpasir putih. Duduk selama dua setengah jam di van teobati dengan mencium aroma pantai. Pantai juga dipenuhi oleh para turis yang menjemur badannya.

Menuju Pulau Coral yang Berpasir Putih

Selanjutnya kami berkumpul ke kantor Travel EBC untuk bergabung dengan rombongan lain. Setelah memberi kesempatan free-time setengah jam kepada kami – yang saya gunakan untuk memotret pantai Pattaya – rombongan berangkat menuju Pulau Coral. Rombongan dibagi dalam 3 boat, saya dan suami ditempatkan di boat bernomor 442.

Pulau Coral (Tawean) adalah pulau yang paling terkenal dari kelompok pulau-pulau kecil beberapa mil lepas pantai Pattaya. Pulau ini sangat populer, karenanya banyak wisatawan ingin menghabiskan hari di pantai berpasir yang luas itu. Bahkan ada juga yang menyelam sambil melihat keindahan terumbu karang di pulau yang berlaut bening itu.

Boat melaju dengan sangat kencang, bahkan beberapa kali seperti terantuk dan membentur air laut dengan keras. Alhasil air nyiprat ke mana-mana, dan tentu saja membasahi kami. Saya teringat hal sama ketika menaiki halilintar di Dufan, tapi yang ini lebih gila lagi.

Steven, orang Indonesia yang baru masuk sekolah pelayaran di Tanjung Periuk yang sekapal dengan saya mengatakan, jangan heran kalau boat ini bakal cepat rusak, karena mesinnya dijalankan “terpaksa”. Secara berseloroh saya katakan, jangan heran juga, lihat saja di kaus nahkodanya ada tulisan “ten power”.

Saya merasa sedikit beruntung setelah 15 menit terguncang-guncang, boat menghentikan lajunya di tengah laut. Rombongan mampir ke kapal yang lebih besar untuk memberi kesempatan kepada peserta yang ingin ikut parasailing (paralayang) dan bergabung dengan rombongan lain dalam jumlah besar. Ada sekitar enam kapal yang melayani “kegilaan” para turis ini.

Baru kali ini saya menyaksikan di buritan kapal dibentang terpal besar. Peserta yang ingin terbang dan dibawa berputar-putar di laut lepas berkumpul di sana menunggu giliran dipanggil. Rasanya ajaib saja melihat orang berani bermain-main di laut lepas. Kenangan saya merambat saat saya pernah tenggelam di birunya laut Pulau Cubadak, Sumatera Barat waktu masih remaja.

Sekitar setengah jam di kapal besar, rombongan dipanggil kembali menaiki boat masing-masing. Saya masih menyempatkan membeli rompi renda warna hitam seharga THB 250 (Rp 75 ribu), tentu saja dengan terburu-buru. Untung saja suami saya berteriak suruh tunggu, kalau tidak kami ditinggal. Tapi saya puas karena rompi yang sejenis di Jakarta harganya lebih mahal. Dan saya pun kembali berayun-ayun di dalam boat 442 itu.

Mendekati pantai Pulau Coral sekitar 15 menit kemudian, boat berhenti lagi. Kali ini menawarkan kepada kami siapa yang berminat menyelam menikmati keindahan terumbu karang. Hanya ada satu turis Jepang, wanita, menyambut tawaran itu dan pindah ke kapal yang lebih besar.

Rasa penat setelah terguncang terobati begitu kaki menginjak pasir putih Pulau Coral. Sejauh mata memandang terlihat pantai yang bersih, kapal-kapal yang bersandar, boat-boat yang lalu lalang, area berenang yang diberi pembatas warna terang, tenda dan kursi pantai warna-warni. Kami dipandu menuju restoran dan diberi kunci loker untuk menyimpan barang bawaan.

Mr. Rick, pemandu wisata kami mengatakan jadwal makan siang kami pukul setengah satu. Itu berarti masih sejam lagi. Saya dan suami memutuskan berjalan-jalan di sepanjang pantai itu dan tentu saja tak lupa foto-foto. Kami tidak berenang – meskipun itu kesukaan kami – karena selain tidak bawa baju ganti, cuaca yang sangat terik membuat saya tidak tertarik melakukannya. Saya tidak mau kulit saya gosong seperti yang diinginkan bule-bule itu.

Di restoran yang berupa aula itu menawarkan banyak dagangan, seperti baju-baju dan pastinya termasuk baju renang, makanan laut yang dipesan lebih dulu, suvenir, dan aksesoris. Bahkan di setiap meja ada colokon (yang bisa mencas tiga hp sekaligus), jadi saya bisa ngetwit, browsing dan facebook-an dari BlackBerry saya tanpa takut batrainya jatuh sekarat.

Thailand yang Melesat Maju

Tak heran dengan pengelolaan yang rapi dan profesional negara yang dulunya bernama Muang Thai, kemudian Siam ini maju dengan pesat. Tak salah juga jika wisatawan yang berkunjung ke Thailand empat kali lebih banyak dari Indonesia. Meski banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, mereka dengan fasih mengucapkan angka-angka. Dan jangan kuatir kita tidak bakal “dipalakin” di sini.

Pulau Tawean bersolek dengan cepat, dengan jarak tempuh 30 menit dari pantai Pattaya memang layak untuk dikunjungi. Lingkungan yang tenang, pantai yang indah, air yang bening menyerupai kaca dan karang yang luas adalah pemikat pulau ini.  Luas daratan pulau tersebut empat kilometer persegi dan berjarak delapan kilometer dari pantai Pattaya.

 Makan siang kami dibagi beberapa kelompok. Saya dengan suami, Steven dan kedua orang tuanya duduk semeja, karena kami memilih menu makanan laut. Hidangan yang tersaji menerbitkan selera. Ada nasi goreng, ikan dan udang goreng, kepiting goreng bumbu, ayam kecap, sayur capcay, sayur mentimun, sup sayuran, dan buah semangka sebagai penutup.

Selesai makan  kami masih diberi waktu hingga pukul tiga sore. Saya dan suami kembali jalan menyisiri pantai dan berakhir dengan berleha-leha di kursi pantai berwarna itu. Setiap kursi disewa THB 40 (Rp 12 ribu). Saya sempat tertidur, karena sejuknya angin yang mengalir. Pukul setengah tiga saya terbangun dan melihat air sudah mulai pasang. Pantai yang tadi lebar sudah digenangi air laut, hanya menyisa di bagian tenda yang di bawahnya terdapat kursi pantai.

Kami balik  dengan menaiki perahu yang bersandar agak ke tengah laut. Jika tadi air laut yang saya rasakan waktu tiba di Pulau Coral hanya sebetis, saat mau pulang ini sudah menyentuh di atas lutut mendekati paha. Di atas perahu para penumpang diminta membuka tingkap papan di bawah kaki. Ternyata bagian bawah perahu terbuat dari kaca. Kami dibawa berkayuh agak ke tengah dan menyaksikan terumbu karang yang berwarna-warni dan ikan-ikan berwarna yang berlenggak-lenggok.

Kami diberi waktu singkat 10 menit saja memandangi keindahan itu. Boat 442 yang saya tumpangi tadi bersiap menampung kami lagi. Saya mempersiapkan diri untuk terguncang lagi selama 30 menit ke depan. Saya sudah mendapatkan kiat supaya tidak terlalu geli dan badan sakit diguncang gelombang. Caranya setiap boat melambung, saya juga ikut mengangkat pantat, seirama dengan hempasan gelombang.  Tangan suami pun saya pegang erat. Beruntung perjalanan pulang tidak “seheboh” waktu pergi, gelombang tidak terlalu besar. Saya hanya sekali kecipratan air laut.

Disambut Festival Marching Band

Sesampai di darat, saya melihat banyak sekali turis berjajar di sepanjang jalan di dekat pantai. Ternyata panggung yang saya lihat siang tadi terisi dengan sambutan pejabat setempat yang membuka festival marching band. Festival itu memperkuat anggapan saya tentang Thailand yang jauh lebih maju pariwisatanya dibanding Indonesia.

Di negara kita, hampir semua festival terpusat di Jakarta. Bersyukurlah ada Tour de Singkarak di Sumatera Barat. Tur sepeda internasional yang sudah tiga kali diadakan itu setidaknya “menyelamatkan” wajah pariwisata kita. Kami berjalan menembus keramaian orang yang ingin menonton perayaan menuju kantor EBC Tour.

Pukul empat sore saya dan suami, serta rombongan lain (sebagian ada yang baru) menaiki mobil van yang membawa kami tadi. Baru 15 menit jalan, kami sudah diajak mampir ke Gem’s Gallery Pattaya. Di sana kami dibawa naik kereta yang berputar memasuki gua yang gelap, di dalamnya kami disuguhi pengetahuan tentang terjadinya batuan berharga sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.

Hebatnya di dalam gua kami disuguhi atraksi yang sudah dikomputerisasi. Gunung di depan kami seolah meletus dan mengeluarkan panas, asap keluar dari semua sisi, bumi merekah, sampai warna batu yang berubah dan air yang membasahi batu. Kereta terus bergerak berpindah melihat batu tadi diolah menjadi apa saja dan terakhir menjadi batu permata yang bernilai seni tinggi. Gerbong kereta yang kami tumpangi menyediakan pengeras suara berbahasa Indonesia. Setiap gerbong menyuguhi bahasa yang berbeda-beda, jadi pemandu tur harus hafal pesertanya dari negara mana saja.

Kereta membawa kami berhenti di mulut ruangan yang menyediakan berbagai perhiasan yang memakai permata. Ada cincin, gelang, kalung mulai dari emas  kuning dan putih 18 karat, 14 karat, dan perak. Harganya mahal-mahal karena disainnya yang ekslusif dan kualitas ekspor. Bros perak saja harganya Rp 1 juta. Saya jadi teringat dengan Gem Production yang saya kunjungi kemarin di Wangmai, Bangkok.

Pukul setengah enam rombongan kembali menuju Bangkok. Rombongan pulang berjumlah 11 orang, kembali riuh-rendah suara peserta rombongan memenuhi ruangan. Saya edarkan pandangan ternyata saya semobil semuanya dengan orang India. Di separuh jalan hujan turun dengan derasnya, saya jadi teringat apakah Jakarta hujan juga? Soalnya sudah sebulan terakhir tidak turun hujan, kering melanda.

Pukul delapan malam kami memasuki kota Bangkok. Baru malam ini saya bertemu macet. Jalan di seberang bahkan tidak bergerak sama sekali. Alhasil pukul sembilan kami baru sampai di hotel. Meski lelah dan dikepung macet, saya senang sekali. Uang yang kami keluarkan THB 3.000 (Rp 900 ribu) untuk tur ke Pattaya menjadi berharga. Toh pengalaman tak bisa ditukar dengan uang dan cerita. Saya selalu ingat kata suami saya, “Daripada diceritakan seribu kali, mending datang dan melihat walau hanya sekali”.

(download)

Filed under: travel
111
To Posterous, Love Metalab